Cara Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus

Cara mendidik anak berkebutuhan khusus penting diketahui dengan benar. Anak autis biasanya cenderung termasuk dalam kategori anak berkebutuhan khusus (ABK). Anak yang tergolong memiliki karakteristik khusus dan prilakunya berbeda dengan anak pada umumnya baik secara mental, emosi atau fisik. Anak yang termasuk dalam kategori ABK ini yaitu; tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, atau anak yang memiliki gangguan kesehatan.

Dalam mendidik dan menangani anak berkebutuhan khusus ini tentu perlu cara yang khusus pula. Kesabaran, wawasan serta ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan agar mampu mengarahkan mereka secara tepat. Perhatian khusus pada anak ABK tidak bisa dilakukan sendiri, apalagi jika orang tua sangat sibuk dengan pekerjaan. Perlu konsultasi dengan dokter anak dan juga ahli fsikologis anak, sebab dalam mengajar anak ABK memerlukan cara yang khusus dan harus tepat.

Cara Mendidik Anak Berkebutuhan Khusus

Jika kebetulan Anda mempunyai anak yang termasuk berkebutuhan khusus, tentunya perlu mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Sebab tidak sedikit dari orang tua yang justru bersikap seperti menyangkal bahwa anaknya hidup secara normal. Bahkan ada juga orang tua yang malah menyalahkan anak. Meskipun ada juga  mereka yang mau menerima keadaan anak apa adanya. Sebetulnya akan lebih mudah dalam mengangani permasalahan ABK apabila orang tua melakukan konsultasi dan komunikasi dengan para pakar anak, seperti dokter anak yang informatif dan ahli fsikolog anak, untuk mendapatkan informasi terbaik dalam hal menangani permasalahan untuk menghadapi anak ABK.

anak-berkebutuhan-khususOrang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus lebih disarankan untuk bersikap lebih terbuka. Sikap keterbukaan mengenai prilaku anak seperti mau menerima keadaan dan kondisi anak apa adanya. Anak ABK sebetulnya sama dengan anak lain, mereka biasanya justru memiliki kelebihan. Misalnya anak autis, cenderung lebih cerdas dibanding kebanyakan anak yang lain. Tinggal bagaimana usaha orang tua mencari cara untuk mendidik anak tersebut dengan langkah yang tepat. Jangan malah menutup diri, yang justru nantinya bisa lebih memperparah kondisi anak apabila ia tumbuh semakin dewasa.

Anak berkebutuhan khusus memerlukan pengawasan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan anak. Jika pertumbuhan fisik maupun mental anak tidak ada perubahan dalam jangka waktu yang cukup lama, segera bawa ke dokter ahli atau konsultasikan dengan pakar psikolog agar diperiksa lebih lanjut.

Bagaimanapun ia adalah anak Anda. Meskipun lahir dalam kondisi berkebutuhan khusus, tetap saja merupakan kewajiban Anda selaku oran tua untuk selalu mendampingi anak dengan penuh kasih sayang. Ajarkan dengan sabar agar anak tidak selalu bergantung kepada orang tua, supaya secara bertahap ia bisa hidup mandiri. Ajari anak berbagai keterampilan, dari mulai belajar mandi, makan, berangkat sekolah, dan tidur sendiri. Jika Anda sabar dan memberikan penanganan yang baik, waktu secara bertahap akan memproses anak yang berkebutuhan khusus dapat hidup wajar seperti anak lain pada umumnya.

Anak dengan kategori ABK harus lebih banyak di stimulasi. Sejak usia anak masih dini antara 1 s/d 5 tahun merupakan waktu yang tepat untuk memberikan stimulasi seperti dengan cara mengajak anak bermain, berlatih menyanyi, atau ajak anak berbincang dan bercerita. Cara ini dilakukan untuk melatih karakteristik, sikap, dan mental anak. Anak berkebutuhan khusus seperti anak autis, seringkali dipengaruhi juga oleh kurangnya perhatian dari orang tua mereka. Sejak kecil anak terbiasa hidup hanya dengan pembantu samapai ia tumbuh besar. Sehingga anak lebih sering bermain sendiri. Lama kelamaan kondisi kesendiriannya itu memicu sikap egois, angkuh, nakal, serta prilakunya menjadi tidak terarah dan sulit diatur. Oleh karena itu, sesibuk apapun luangkan beberapa saat setiap hari waktu Anda untuk putera puteri tercinta.

Disarankan bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) lebih proaktif dan dapat menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai fihak seperti sekolah, dokter, dan juga psikolog. Hal ini dilakukan agar semua pihak dapat membantu memantau perkembangan mental, sikap, dan karakter anak. Sehingga akan lebih mudah menemukan cara terbaik untuk memberikan metode yang tepat dalam mendidik dan memberikan perhatian khusus yang dibutuhkan untuk anak berkebutuhan khusus.