Cara Mendidik Anak Agar Hidupnya Bahagia

No Comments
Jangan memaksa anak untuk selalu menuruti keinginan Anda sebagai orang tua. Barangkali sudah menjadi harapan yang paling didambakan oleh setiap orang tua saat melihat putera puterinya sehat tak kurang suatu apapun. Demi anak apa saja pasti dilakukan dan dikorbankan, namun sayangnya tidak jarang karena saking sayangnya orang tua melupakan satu hal yaitu kebahagiaan anak. Tahukah Anda bahwa apa yang menurut Anda baik untuk anak belum tentu bisa membuatnya bahagia? Seringkali karena merasa memiliki hak penuh sebagai orang tua, Ayah dan Ibu cenderung suka memaksakan kehendak kepada anak. Bukankah hal ini sebenarnya mengabaikan hak-hak privasi mereka? Bahkan dalam Islam orang tua tidak diajarkan untuk memaksakan kehendak, namun diwajibkan agar mampu mendidik dengan baik supaya akhlaq anak sesuai dengan aturan-aturan Islam. Sekalipun paksaan yang dilakukan dengan alasan demi kebaikan anak hasilnya tetap tidak baik.

Sudah terbukti banyak Anak yang justru menjadi nakal, keras kepala, susah diatur dan sering berontak dengan kata lain sebab (broken home), karena ia merasa sudah tidak tahan dengan perlakukan dan sikap monoton orang tua mereka yang terlalu mengekang dan memaksa. Anda harus ingat bahwa bagaimanapun anak merupakan seorang manusia titipan Tuhan yang memiliki perasaan dan pemikiran sama seperti Anda orang dewasa. Sebetulnya anak hanya perlu diarahkan dengan baik. Bukan tidak boleh melarang, namun yang perlu dilakukan adalah meluruskan dan mengarahkan denga cara bijak. Sebab sekalipun akhirnya anak mau melakukan apa yang diinginkan oleh orang tuanya, tapi hal itu tidak berarti di masa depan ia akan hidup bahagia.

Sebaiknya perhatikan betul watak dan karakter masing-masing anak, cermati apa saja kegiatan yang disukainya, selidiki apa hobinya. Lalu arahkan supaya kegiatan tersebut bisa menjadi aktifitas anak yang bermanfaat baik untuk dirinya sendiri maupun bagi sesamanya. Semua pekerjaan bisa membuat orang sukses, jika pekerjaan tersebut ditekuni, dipelajari, dan dikembangkan dengan sangat baik, serta diridhoi oleh Allah S.W.T, sehingga nantinya apapun pekerjaannya akan berguna dan dibutuhkan oleh banyak orang. Jadi sekalipun kegiatan yang disukai anak tidak disukai oleh Anda sebagi orang tua, seharusnya orang tua bisa bisa menjadi lebih bijaksana dalam mengambil tindakan.

agar-anak-bahagiaBukankah hal terpenting adalah ingin membuat hidup anak bahagia dan menjadi orang yang sukses? Jika itu yang Anda inginkan dari putera putri tercinta, maka segera dukung aktifitas apapun yang sekiranya bermanfaat bagi anak dan masyarakat banyak. Salah jika orang tua selalu berpikir bahwa membahagiakan anak yaitu dengan memberikan apa yang terbaik menurut orang tua. Justru yang membahagiakan hidup anak adalah waktu orang tua mereka mendukung sepenuhnya terhadap pekerjaan yang mereka sukai.

Ketika suatu saat anak bisa menjadi orang yang sukses dan hidupnya bahagia, maka pasti ia akan selalu ingin membahagiakan kedua orang tua yang selalu mendukungnya. Lain lagi jika anak selalu dipaksa melakukan apa yang terbaik menurut orang tua, sekalipun anak bisa mencapai sukses, namun tidak jarang yang akhirnya justru pergi jauh meninggalkan orang tuanya, dan datang hanya setahun sekali itupun jika anak mau dan tidak sangat sibuk. Paksaan seringkali menjadi sebuah jurang pemisah antara perasaan anak dan orang tua. Sehingga akhirnya anak merasa tidak nyaman hidup dekat dengan orang tua. Justru dengan berada dekat bersama orang tuanya anak malah menganggap keadaan itu sebagai suatu beban perasaan sebab ia selalu merasa hidupnya tertekan. Sikap seperti inilah yang justru akhirnya jangan sampai terjadi dan membuat anda menyesal.

Oleh karenanya mualilah sejak dini orang tua untuk bersikap lebih realistis. Seperti yang telah diungkapkan di atas, bahwa anak merupakan manusia biasa yang sama dengan kita sebagai orang tua, anak juga punya perasaan, keinginan, dan hak azasi yang hakiki. Karenanya salah satu cara untuk membuat anak bahagia adalah dengan memberikan perhatian terhadap kehidupan pribadinya. Misalnya perhatian orang tua ketika melihat anak bersedih. Bisa juga orang tua selalu menjadi pendengar yang baik untuk setiap pengalaman-pengalaman yang dialami anak. Dengarkan cerita mereka, dan berikan sikap realistis seperti anda bersikap saat menanggapi dan mendengarkan cerita dari rekan-rekan sesama orang dewasa. Rutinlah melakukan ibadah seperti sembahyang atau mengaji bersama bareng putera puteri tercinta untuk lebih mendekatkan hubungan bathin Anda dan anak-anak.

Bantu anak untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang sedang dihadapinya, jangan lantas melarangnya atau memponis dengan memberikan keputusan yang benar menurut Anda saja. Berikan hak anak untuk bicara dan mengungkapkan pendapatnya. Sekalipun ada kesalahan yang memang harus diperbaiki, bicarakan dan berikan anak pengertian secara jelas. Bila perlu ceritakan pengalaman nyata atas apa yang anda nasehatkan tersebut, supaya anak bisa memahaminya dengan realistis pula jika ia tahu apa yang anda nasehatkan adalah suatu fakta yang memang ada buktinya.