Thursday, March 27, 2014

Cara Mendidik Anak Agar Patuh Kepada Orang Tua

Cara mendidik anak agar patuh dan selalu taat kepada orang tua. Kepatuhan Anak kepada orang tua maupun kepada setiap aturan tidak harus selalu dibentuk menggunakan cara kekerasan dan hukuman. Sikap patuh seorang anak terbentuk dan dapat dimunculkan justru oleh kesadaran dari dalam diri anak. Sebagai orangtua sebaiknya mampu lebih bijaksana dalam mendidik agar anak patuh, dengan pola, cara, serta metode yang membua anak dapat lebih menyadari bahwa kepatuhan kepada orang tua dan aturan di masyarakat merupakan sebuah nilai yang positif bagi dirinya.

Untuk mewujudkan keinginan agar anak patuh memang bukan suatu pekerjaan yang mudah. Waktu tenaga, perhatian, serta proses jelas harus kita lewati. Sebuah kesabaran dari para orangtua sangat dibutuhkan begitu juga dengan berusaha keras secara ekstra. Jadi sebetulnya tidak ada yang tidak mungkin, apabila diniatkan dengan baik dan dikerjakan dengan cara yang tepat. Dengan begitu orangtua tidak perlu lagi harus mendidik anak selalu harus dengan cara kekerasan ataupun dengan cara menghukum mereka.

cara-mendidik-anak-agar-patuh

5 Cara Untuk Mendidik Anak Agar Lebih Patuh

  1. Konsisten. Salah satu cara melatih kepatuhan atau sikap disiplin pada anak yaitu dengan  cara yang konsisten di dalam menentukan atau membuat peraturan. Misalnya saja jika hari ini Anda melarang anak bermain di jalanan, maka untuk hari berikutnya peraturan tersebut harus tetap bisa dijalankan.
  2. Bersikap Lembut Penuh Kasih Sayang. Pada dasarnya setiap Anak hampir tidak mampu merespon dengan baik tentang keinginan kita, apabila cara orangtua dalam menghadapi mereka dilakukan dengan nada seperti membentak, marah dan beringas. Sikap tegas dalam mendidik tidakselalu harus dengan bersikap kasar ataupun terlalu keras. Anda bisa melakukannya dengan sikap yang lebih lembut dan penuh rasa sayang. Belajarlah untuk mengerti perasaan anak dan beritahukan dengan menekankan kepada anak bahwa mereka harus bisa belajar disiplin serta patuh kepada setiap peraturan atau arahan yang anda berikan.
  3. Berikan Contoh Sikap Baik. Cara ini merupakan sikap paling bijaksana dan efektip yang mampu mendidik agar anak lebih patuh. Dengan memberi contoh sikap atau perbuatan kita yang baik kepada anak secara tidak langsung mengajari mereka apa yang seharusnya dilakukan. Sikap sebaliknya dengan memberikan contoh yang tidak baik, justru hanya akan membuat anak menganggap orangtua bersikap tidak adil.
  4. Berikan Anak Pujian. Tidak perlu merasa sungkan untuk memberikan sebuah pujian kepada anak seperti dengan cara membesarkan hati mereka setiap kali anak melakukan hal positif seperti yang diinginkan orangtua. Cara demikian mampu membuat perasaan anak merasa lebih dihargai atas tindakan serta usaha baik yang dikerjakannya.
  5. Berikan Penjelasan Tujuan Sikap Anda Kepada Anak. Berilah anak penjelasan mengenai apa maksud serta tujuan baik yang Anda lakukan, misalnya soal menetapkan aturan disiplin kepada anak, dengan begitu anak akan dapat mengerti apa alasan mereka harus mematuhi peraturan disiplin yang diterapkan oleh orangtuanya.

Demikian beberapa tips atau cara untuk mendidik anak agar mereka mampu belajar untuk selalu patuh dan taat kepada orangtua maupun peraturan disiplin yang diterapkan. Semua usaha tersebut selalu dapat diwujudkan, apabila para orangtua sendiri mampu memberikan contoh dan sikap baik yang nantinya akan menjadi tauladan bagi anak. Semoga saja tulisan ini bisa membantu dan bermanfaat bagi pembaca, khususnya untuk penulis dan keluarga.
Read more ...
Tuesday, March 18, 2014

10 Kesalahan Dalam Mendidik Anak

1O Kesalahan dalam mendidik anak tercinta. Tidak sedikit orang tua yang sebetulnya sudah mengetahui, bahwa pendidikan untuk anak adalah tanggung jawab yang sangat besar, namun ternyata pada kenyataanya, banyak sekali orang tua yang masih melalaikan serta menganggap spele permasalahan ini. Yang pada akhirnya karena kesibukan malah mengabaikan pendidikan anak, bahkan tidak sedikit memberikan perhatian untuk perkembangan anak mereka.

Orang tua baru sadar, setelah anak-anak mereka melakukan perbuatan durhaka, seperti anak yang suka melawan kepada orang tua, sikap dan perilakunya menyimpang dari aturan agama serta banyak melanggar aturan sosial, dan anehnya justru tidak sedikit orang tua yang justru malah menyalahkan sepenuhnya hal tersebut kepada anaknya. Ternyata masih banyak orang tua yang tidak menyadari betul, kalau sebenarnya sikap mereka yang justru mengabaikan pendidikan utuk anak-anaknya itulah yang jadi penyebab utama sehingga tumbuhlah karakter serta prilaku atau sikap durhaka pada anaknya tersebut.

Kesalahan dalam cara mendidik anak itu sangat beragam bentuknya, dan tidak disadari kesalahan itulah yang memberi andil tumbuhnya sikap serta prilaku durhaka anak kepada orang tua, atau yang biasa disebut sebagai kenakalan remaja.


kesalahan-dalam-mendidik-anak


Berikut ini 10 Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak

  1. Menumbuhkan rasa takut dan minder pada anak. Adakalanya pada saat anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut : Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu, jin dan lain-lain.  Hal yang lebih parah lagi dan mungkin tidak disadari, yaitu orang tua sudah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.
  2. Mendidiknya menjadi sombong, panjang lidah, congkak terhadap orang lain. Itu dianggap sebagai sikap pemberani. Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.
  3. Membiasakan nnak-Anak hidup foya-foya, bermewah-mewah dan sombong. Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakah muru’ah (harga diri) dan kebenaran.
  4. Selalu Memenuhi Permintaan Anak Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.
  5. Selalu memenuhi permintaan anak ketika menangis, terutama anak yang masih kecil. Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.
  6. Terlalu keras dan monoton dalam menghadapi anak dan melebihi batas kewajaran. Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.
  7. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Naa’udzubillah mindzalik
  8. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka Mencari Kasih Sayang Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya. Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –waiyadzubillah-. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.
  9. Hanya memperhatikan kebutuhan jasmaninya anak. Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.
  10. Terlalu berprasangka baik kepada anak. Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa hanyalan penyesalan tak berguna.
Itulah diantaranya sepuluh kesalahan dalam mendidik anak yang kerap kali dilakukan oleh para orang tua. Mungkin kita juga tidak menyadari telah melakukannya. Oleh sebab itu, marilah kita sebagai orang tua hendaknya selalu berusaha agar terus menerus belajar dan mencari ilmu, terutama yang ada kaitannya dengan pendidikan anak.

Supaya terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menimbulkan kesalahan fatal dan berakibat buruk bagi masa depan anak-anak kita. Jangan lupa untuk selalu berdo’a, agar senantiasa anak-anak kita mampu hidup menjadi generasi muda yang shalih dan shalihah dan berakhlak mulia, yang bermanfaat bagi sesamanya.
Read more ...
Thursday, March 13, 2014

Cara Mendidik Balita Supaya Pintar

Cara mendidik balita supaya pintar dan lebih cerdas. Secara alami pada sebagian bayi atau balita lebih cenderung dapat menjadi balita cerdas dan pintar disebabkan oleh faktor genetika. Sebagian lain diketahui balita tidak cerdas atau tidak pintar disebabkan oleh faktor genetika. Tetapi tentunya setiap orangtua menginginkan anaknya menjadi seorang yang cerdas dan pintar. Oleh sebab itu, sudah menjadi tugas para orang tua untuk mendidik serta berusaha mengembangkan potensi yang dimiliki anak.

Akan tetapi seringkali justru dikarenakan oleh sibuknya pekerjaan, sehingga rasa lelah membuat orang tua menjadi kurang bersemangat untuk memperhatikan dan meluangkan waktu serta mempersiapkan faktor pendukung yang dibutuhkan untuk perkembangan anak balita tersebut. Sehingga, kebanyakan dari anak-anak sekarang mereka cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah.

Faktor lain yang menjadikan anak kurang cerdas adalah kenyamanan di rumah yang tidak mendukung, misalnya karena orang tua yang lebih sering bertengkar, kurang perhatian dan kasih sayang. Keadaan demikian itulah yang sering menjadi penyebab timbulnya perasaan tidak nyaman berada di rumah bagi anak, dan tentunya hal itu akan menjadikan mereka tidak semangat untuk belajar.

mendidik-anak-balita-supaya-pintar

Delapan Cara Untuk Meningkatkan Pembelajaran Awal Pada Anak Balita

  1. Ajak bayi anda keluar dan melihat-lihat lingkungan di luar rumah. Saat Anda membawa bayi untuk melihat bunga, burung dan mobil dan mengucapkan kata-kata dari benda-benda tersebut maka bayi Anda akan belajar hal-hal ini, serta menjadi lebih waspada dan sadar akan lingkungannya.
  2. Bawa bayi ke mana-mana. Dia bisa bertemu orang-orang, melihat dunia dan menonton orang lain bukan hanya menatap ruangan sendiri setiap hari. Pengalaman ini bisa sangat merangsang mental baginya dan orang-orang akan membantu dia mengembangkan sosialnya. Lakukan hal-hal dengan bayi yang biasanya Anda lakukan. Biarkan dia melihat Anda menyikat gigi, rambut dan berpakaian. Meskipun butuh waktu lebih lama bagi Anda untuk melakukan tugas-tugas sederhana, bayi akan belajar dan menonton semua yang Anda lakukan. Hal ini membuat mengajarinya lebih mudah dan lebih cepat.
  3. Hindari menonton TV. Beberapa orang tua membiarkan bayi mereka di depan TV karena mereka terlalu lelah atau malas untuk berinteraksi dengan mereka. Jika bayi Anda menonton TV sebaiknya orangtua menemani sehingga Anda dapat memandu dan berinteraksi dengan bayi Anda hal ini akan membantu minat bayi dalam belajar.
  4. Dengarkan musik , bernyanyi dan menari dengan bayi. Bayi sangat senang dengan music atau bunyi-bunyian, tempo upbeat dan gaya energik membuat suasana hati bayi Anda menjadi senang, serta merangsang pikirannya.
  5. Biarkan orang lain menggendong bayi Anda. Selama orang tersebut baik, melakukan hal ini akan membantu bayi Anda belajar tentang individualitas. Bayi tidak memiliki prasangka, penilaian atau kekhawatiran mengenai apakah seseorang gemuk atau kurus, baik atau tidak. Biarkan orang memegang bayi Anda dan dia akan belajar tentang karakteristik manusia.
  6. Tetap bahagia, walaupun Anda lagi ada masalah. Karena bayi bias menangkap energi Anda. Jika Anda berada dalam suasana hati yang buruk, sedih, kesal atau marah, bayi juga akan menjadi tertekan. Selalu tersenyum dan membuat bayi Anda merasa baik. Suasana bahagia membuat bayi lebih cerdas.
  7. Merangsang dengan mainan . Tentu saja setiap bayi mencintai mainan. Pilihlah mainan yang merangsang pikiran mereka. Anda juga bisa bermain dengan bayi Anda dengan membuat terowongan untuk merangkak dan keluar dari selimut, bermain cilukba, bermain walker dan ide-ide lain yang Anda buat sendiri akan merangsang bayi Anda.
  8. Perkenalkan bayi Anda lebih dari satu bahasa. Anda mungkin berpikir itu akan membingungkan bayi Anda, padahal sebenarnya ini adalah waktu terbaik untuk membuat anak Anda mengenal banyak bahasa.

Mendidik anak balita supaya pintar dan cerdas tentu saja akan membutuhkan waktu dan kerja keras yang tidak sedikit. Sebab itu adalah hal yang harus disadari bahwa sudah merupakan tugas utama yang wajib untuk setiap orang tua untuk berusaha secara maksimal mendidik anak agar bisa menjadi anak yang cerdas, pintar dan berakhlak baik.
Read more ...
Monday, January 6, 2014

Cara Mendidik Anak Usia 3 Tahun

Cara mendidik anak usia 3 tahun dibutuhkan kesabaran. Pada saat anak berusia 3 atau 4 tahun biasanya anak sudah mampu mengembangkan otonomi dirinya, sehingga banyak perubahan perilaku yang dapat dilihat seperti anak sangat egois, susah diatur, keras kepala, mudah marah atau tempramental. Sebetulnya hal tersebut terjadi karena adanya periode yang merupakan dasar untuk anak agar dapat mengembangkan kemandirian serta kemampuannya dalam belajar menunda keinginan yang ada di dalam diri anak tersebut.

Supaya anak dapat belajar dengan baik dan mampu menyelesaikan semua tahapan ini, tentu saja akan membutuhkan bantuan dari kedua orgtuanya. Orangtua dan lingkungan di sekitarnya merupakan faktor penting dan menentukan apakah anak dapat mengembangkan kepribadian yang mandiri, bisa bersabar, bisa menerima bahwa ternyata tidak semua apa yang ia inginkan bisa terpenuhi, dan juga apakah anak dapat berbagi dengan orang lain, atau malah sebaliknya. Akan sangat dibutuhkan usaha serta kesabaran tidak sedikit untuk orangtua dalam menghadapi mereka.


anak-usia-3-tahun


Direkomendasikan bagi setiap Ibu untuk mengevaluasi pola asuh serta penerapan disiplin untuk diterapkan di rumah. Tentunya dalam hal ini kedua orangtua harus memiliki pandangan sama mengenai pola asuh juga penerapan disiplin yang akan diterapkan. Kemudian tugas berikutnya berusaha dengan maksimal supaya pola asuh, disiplin serta aturan-aturan yang dibuat dan telah disepakati bersama harus betul-betul diterapkan dengan konsisten. Sebab jika tidak, hasilnya tentu saja tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.

Pada dasarnya semua anak, apalagi mereka yang sangat aktif memerlukan aktivitas yang terstruktur. Sebab tidak baik jika anak menghabiskan waktu tanpa arahan orangtua. Seperti hanya berlarian, lompat-lompat di kursi atau di tempat tidur. Sebaiknya Ibu mulai menata kegiatan anak dengan membuat jadwal kegiatan harian bagi anak. Dengan begitu ibu bisa memberikan kegiatan alternatif pada waktu luang anak. Seperti, setelah pulang sekolah dan selesai makan siang, berikan alternatif kegiatan seperti main playdough atau melukis, dan pada sore hari, ibu bisa mengajaknya bersepeda atau jalan-jalan keliling. Begitu juga saat hari libur, orangtua dapat mengajak anak hiking ke tempat yang berkontur turun naik, bisa juga membawanya berenang. Pada anak yang cenderung lebih aktif, orangtua harus memberikan banyak alternatif kegiatan, terutama aktifitas yang dapat memuaskan kebutuhan kerja otot anak.

Penting memberikan reward berupa pujian tulus dan pelukan atau ciuman ketika setiap kali anak bisa melakukan perilaku yang positif, apa pun itu. Ucapan seperti "I love you kaka, Ayah dan Bunda cinta kamu", "Ummi dan Abi sayang sekali sama kakak", itu adalah contoh ucapan-ucapan dimana mampu meyakinkan pada anak bahwa anda sebagai orangtua mencintainya. Namun untuk perilaku anak yang negatif, disarankan anda tidak perlu memperhatikannya, cukup menegurnya dengan nada tegas bahwa anda tidak suka bila anak melakukan hal tersebut. Misalnya, ketika anak bicara kotor, anda bisa katakan : "Maaf sayang, Ibu sedih sekali bila kamu mengucapkan kata-kata itu, karena itu tidak baik." Bila anak masih mengucapkan, jangan pedulikan, tapi alihkan perhatiannya pada aktivitas lain. Nanti, saat Ibu bercerita atau mendongeng, Ibu bisa memasukkan nilai-nilai yang ibu harapkan, misalnya anak yang sopan dan bicara yang baik pasti akan disayang semua orang, dan sebaliknya.

Selebihnya, rasanya Ibu jauh lebih mengetahui anak-anak Ibu dengan lebih baik, sebab psikolog terbaik untuk seorang anak yaitu orangtuanya mereka sendiri. Semoga dengan do’a yang tulus yang setiap kali anda panjatkan kepada Allah dan disertai usaha anda secara maksimal, insyaaloh kita semua bisa menjadi orangtua yang ikhlas dan sabar, bijaksana dan cerdas dalam mendidik anak, karena anak merupakan anugerah terindah yang Allah telah berikan kepada kita sebagai orangtua.
Read more ...